Leena menggenggam lututnya, tubuhnya gemetar. “Penduduk asli dengan kekuatan besar… makhluk di gua itu… dan pil ini. Apa yang sebenarnya terjadi di pulau ini?”

Lynx memandang botol kecil itu, ragu-ragu. “Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti, orang yang membuat surat ini berbeda dari mereka yang membuat ukiran di gua itu.”

Leena mengangguk. “Benar, ukiran itu tampak lebih kuno. Seperti dari peradaban yang sangat lama, mungkin jauh sebelum orang ini tiba.”

Lynx merenung sejenak, lalu menatap botol kecil dan cincin yang juga mereka temukan dalam peti. “Kita tidak tahu apa yang pil ini bisa lakukan. Kita tidak tahu apa itu akar spiritual, dan aku tidak ingin mengambil resiko tanpa alasan. Kita simpan saja. Mungkin suatu hari nanti, saat kita benar-benar putus asa, ini bisa menjadi pilihan terakhir.”

Leena mengangguk setuju. “Tapi bagaimana dengan penduduk asli? Jika mereka masih ada di pulau ini, apa yang akan terjadi jika kita bertemu mereka?”

Lynx menarik napas panjang. “Kita harus menghindari mereka. Apapun alasan mereka melindungi rahasia pulau ini, kita tidak ingin terlibat. Sudah cukup kita menghadapi makhluk-makhluk di gua.”

"Apa menurutmu mereka kanibal? Seperti di film-film tentang penduduk asli?" Tanya Leena khawatir.

"Kita tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting kita selalu waspada hadapi semua ancaman di depan kita." Lynx mengingatkan agar Leena tidak lagi mengkhawatirkan hal tersebut.

"Apakah tidak ada petunjuk tentang cincin itu?" Tanya Leena penasaran.

Lynx mencoba mencari petunjuk lainnya mengenai surat namun tidak ditemukan. Karena ukurannya lebih besar dari jari Leena, akhirnya Lynx mengenakan cincin tersebut ditangan kirinya.

"Apa rencana kita selanjutnya Lynx?" Tanya Leena.

“Kita bertahan hidup dulu,” kata Lynx sambil menatap api unggun kecil yang mereka buat.

“Kita simpan apa yang kita temukan dan terus maju. Jika ada waktunya kita harus menggunakannya, maka kita akan tahu.”

Leena memandang botol kaca kecil itu dengan cemas sebelum Lynx menyimpannya ke dalam tas bersama surat-surat lainnya yang belum bisa mereka pahami. Mereka tahu, hari-hari ke depan masih penuh dengan tantangan dan bahaya, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka tidak akan menyerah begitu saja.

Setelah membaca dan merenungkan isi surat itu, Lynx dan Leena duduk di dekat api unggun kecil yang mereka buat untuk menghangatkan diri. Angin malam membawa aroma hutan yang lembab, sementara bintang-bintang bersinar terang di atas mereka.

“Setidaknya, kita sedikit tahu apa yang terjadi di pulau ini,” kata Leena, sambil memandang ke arah api unggun. “Meskipun kita belum tahu kenapa kita bisa terdampar di sini.”

Lynx mengangguk. “Surat itu membuka beberapa rahasia, tapi juga menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Tapi untuk sekarang, kita harus fokus pada apa yang bisa kita lakukan. Bertahan hidup dan mencari Sherly.”

"Menurutmu, dunia dimensi itu seperti apa?apakah sama seperti di film-film, ada dunia yang sama, orang yang sama tapi sebenarnya berbeda?" Leena bertanya penasaran.

"Aku tidak tahu, bisa jadi juga dunia dimensi itu berbeda dengan dunia kita, tapi apapun itu sebaiknya kita simpan dulu. Aku tidak mau nanti kita bertambah khawatir karena memikirkan hal yang belum waktunya kita pikirkan." Jawab Lynx.

Tiba-tiba Leena merasa mendapatkan jawaban atas keanehan pada Chiko dan Sherly, "kurasa Sherly dan Chiko juga berasal dari dimensi yang berbeda. Itu sebabnya apa yang mereka ceritakan tidak sama dengan yang kita ketahui "

Lynx menganggukkan kepala. "Bisa jadi, ada kemungkinan itu. Kita harus menemukan Sherly terlebih dahulu. Entah dimana dia sekarang?"

Leena berkata lagi. “Aku yakin gambar di peta yang dimaksud itu adalah harta karun yang Sherly coba cari. Itu sebabnya dia berusaha mencapai gua timur. Kalau kita bisa sampai kesana, mungkin kita bisa menemukannya, atau setidaknya petunjuk keberadaannya.”

Lynx terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Kalau begitu, kita harus bersiap lebih baik. Perjalanan ini akan panjang.”

Kemudian mereka memutuskan untuk menghabiskan malam itu membuat peralatan tambahan yang akan membantu perjalanan mereka.

Pagi itu, setelah beristirahat, dan bersiap-siap, Leena kebingungan bagaimana cara membawa peralatan yang sangat banyak. Terutama bambu-bambu yang mereka buat sangat berat untuk dibawa semua setelah diisi air dan barang-barang lainnya.

"Tenang saja, kita akan ikat jadi satu lalu kita bawa menggunakan tongkat sebagai tandu agar kita tidak keberatan."

Hari itu juga mereka memulai perjalanan menuju gua timur seperti yang digambarkan di peta. Jalur yang mereka ikuti jauh lebih jelas dan teratur, sesuai dengan jalur yang ditunjukkan oleh ukiran di dinding gua sebelumnya.

Meski kondisi pada jalur di peta sudah banyak berubah dimakan waktu, namun Lynx dan Leena bisa merasakan perbedaan jalur yang mereka lewati lebih aman daripada jalur sebelumnya.

“Kamu benar Lynx,” kata Leena sambil memperhatikan sekeliling. “Arah yang kita lewati saat ini memang berbeda. Jalur ini jauh lebih aman daripada yang kita lewati pertama kali.”

Lynx memperhatikan sekitarnya. Tidak ada tanaman beracun atau jebakan alami yang berbahaya. Hewan liar yang mereka temui hanyalah rusa kecil dan beberapa burung, berbeda jauh dari predator ganas yang mereka hadapi di jalur sebelumnya.

“Tidak ada tanaman berbahaya atau makhluk aneh disini,” gumam Lynx. “Jalur ini sepertinya benar-benar rute yang lebih aman. Mungkin ini adalah jalur yang Chiko dan Sherly gunakan untuk menuju utara sebelumnya.”

Leena mengangguk. “Itu masuk akal. Tapi aku tidak mengerti kenapa mereka tidak memberi tahu kita jalur ini sejak awal.”

“Chiko mungkin sudah mencoba menjelaskannya, tetapi tanpa gambaran yang jelas, sangat susah menemukan jalur ini,” kata Lynx.

Perjalanan mereka berlangsung lebih lancar daripada yang mereka harapkan. Meski begitu, mereka tetap waspada. Senjata yang mereka bawa selalu siap di tangan, berjaga-jaga jika ada bahaya yang tiba-tiba muncul.

Sepanjang perjalanan, pikiran Leena terus tertuju pada Sherly. Ia mencoba mengingat kembali saat-saat bersama Sherly, apakah ada informasi yang terlewatkan saat mereka berinteraksi.

“Kalau Sherly benar-benar menuju timur untuk mengejar harta karun, kenapa dia memilih pergi seorang diri, tidak mengajak kita?” kata Leena sambil berjalan.

Lynx menghela napas. “Apapun itu alasannya, kita harus menemukannya terlebih dahulu. Dia mungkin satu-satunya orang yang bisa memberi tahu kita lebih banyak tentang pulau ini.”

Setelah beberapa hari perjalanan, mereka mulai melihat perubahan di jalur yang mereka lewati. Tanaman liar mulai muncul lagi, meskipun tidak sepadat jalur yang mereka lewati sebelumnya. Hewan-hewan liar juga lebih sering terlihat, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda agresi.

“Meskipun jalur ini lebih aman, masih ada tanda-tanda bahwa kita mendekati wilayah yang belum dijelajahi. Jangan lupa, Sherly dan Chiko kita temui dalam kondisi terluka, kita belum mengetahui penyebab mereka terluka,” kata Lynx.

Leena mengamati sekitarnya dengan hati-hati. “Kita harus tetap waspada. Siapa tahu apa yang menunggu di depan.”

Setelah hampir seminggu perjalanan, mereka akhirnya tiba di lokasi yang mereka kenali, pesisir pantai. Masih terlihat tanda SOS yang mereka buat dan tidak ada tanda-tanda seseorang menemukannya.

"Lynx, sudah sekian lama kita di tempat ini tapi masih belum menemukan petunjuk apapun mengenai bala bantuan. Kita juga tidak ada melihat kapal atau pesawat. Ada dimana kita sebenarnya?"Leena bertanya sambil menahan air mata.

Terlihat kesedihan di matanya, akibat munculnya rasa hilang harapan, melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia yang bisa menolong mereka.

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Lynx dan Leena akhirnya tiba di pohon besar tempat mereka berlindung dari badai sebelumnya, di sebelah utara pulau. Tempat pertama mereka terdampar di pulau ini. Matahari sore menerangi area di sekitar tempat itu, dan suara kicauan burung memberikan perasaan akrab yang selama ini mereka rindukan. Namun, kegembiraan mereka hanya sesaat. Lynx langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Leena duduk beristirahat di dekat salah satu pohon, mengatur napas sambil tersenyum lega. “Akhirnya kita kembali ke tempat ini. Aku merasa lebih aman di sini.”

Tapi Lynx berdiri diam, matanya meneliti tanah di sekitar mereka. “Tidak, Leena. Ada yang salah. Lihat ini,” katanya sambil menunjuk jejak kaki yang berserakan di tanah. Beberapa bercampur dengan noda darah kering.

Leena segera bangkit, menatap jejak-jejak itu dengan cemas. “Itu… itu darah. Apa ada perkelahian di sini?”

Lynx mengangguk, lalu memeriksa sekitar dengan berhati-hati.

Setelah memastikan keadaan aman, Lynx segera mengajak Leena pergi ke gua mereka.

Mereka berjalan perlahan dengan waspada, tombaknya siap di tangan. “Kita harus hati-hati. Sekelompok orang datang ke sini, dan mereka bertarung.”

Leena mengikuti di belakang, sambil membawa peralatan mereka.

Begitu sampai di depan pintu gua, mereka menemukan batu-batu di sekitar pintu masuk terlihat seperti habis dipindahkan dan dikembalikan dengan buru-buru.

Dan yang lebih jelas. Barang-barang sederhana yang mereka tinggalkan sebelumnya berserakan di lantai. Sebagian rusak, sebagian hilang. Namun di salah satu dinding gua, ada sesuatu yang langsung menarik perhatian mereka, sebuah pesan yang terukir dengan tergesa-gesa di dinding batu.

Tulisan itu berbunyi:

*"Bahaya, ada penduduk asli menyerang. –Sherly"*

Leena terkejut, mendekat untuk membaca tulisan itu lebih jelas. “Sherly? Dia masih hidup? Dia kembali kesini menemui kita. Tapi… penduduk asli? Apa maksudnya?”

Lynx menyentuh tulisan itu, merasakan goresan kasar yang sepertinya baru dibuat beberapa hari lalu. “Dia pasti menulis ini sebelum pergi. Tapi lihat caranya mengukir… ini dilakukan dengan terburu-buru. Dia mungkin sedang melarikan diri.”

Leena menggigit bibirnya, rasa khawatir mulai menghantuinya. “Kalau begitu, dia dalam bahaya. Lynx, kita harus menemukannya!”

Lynx menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. “Aku tahu. Tapi kita tidak bisa gegabah. Jika penduduk asli benar-benar menyerang, kita harus mempersiapkan diri dahulu di sini dan bersiap. Kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi.”

Lynx lalu menceritakan kepada Leena bahwa dia memperkirakan ada dua kelompok berbeda yang datang ke gua ini. Bisa terlihat dari jejak pertempuran yang tertinggal di sekitar tempat itu.

"Sepertinya kedua kelompok ini tidak akur, mereka saling berperang. Kamu bisa lihat tadi, jejak-jejak darah yang ada disekitar menunjukkan bekas pertarungan. Tidak mungkin mereka bertarung dengan kawannya sendiri."

Leena terdiam, lalu mengangguk. “Kamu benar. Tapi kita harus cepat. Kalau Sherly dikejar oleh penduduk asli itu, dia mungkin tidak punya banyak waktu.”

Lynx menatap ke arah pintu masuk gua. “Ya. Tapi menyusul tanpa mengetahui kondisi juga berbahaya, kita harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.Gua ini menjadi tempat terbaik untuk kita bertahan. Kita kenal tempat ini, dan kita bisa mempersiapkan jebakan untuk melindungi diri. Kalau Sherly kembali ke sini, dia juga akan lebih aman.”

Lynx menjelaskan kepada Leena, karena sebenarnya dia mengkhawatirkan keadaan Leena jika bertemu bahaya. Seandainya terjadi konflik dan pertarungan dengan penduduk asli, Lynx merasa tidak yakin sanggup menghadapi mereka sambil melindungi. Dia ingin memastikan keamanan Leena terlebih dahulu, lalu menyusul Sherly sendirian.

Mereka segera bekerja. Lynx dan Leena memanfaatkan segala hal yang tersedia untuk memperkuat pertahanan gua. Mereka memperbaiki jebakan-jebakan lama di sekitar pintu masuk, menambahkan tombak kayu tajam yang diolesi racun pelumpuh ke jebakan lubang yang tertutup daun dan ranting. Lynx juga memperbaiki alarm dari daun dan ranting-ranting kering untuk memberi peringatan jika ada sesuatu mendekat.

Leena, sementara itu, memeriksa setiap sudut gua, mencari tanda-tanda lain yang mungkin ditinggalkan Sherly. Ia menemukan barang yang hilang berupa beberapa sisa ramuan yang mereka tinggalkan sebelumnya. “Sherly pasti mengambil lagi ramuan itu untuk bisa bertahan melawan penduduk asli disini,” gumamnya.

Malam itu, mereka duduk di dekat api kecil yang mereka nyalakan di dalam gua. Udara malam yang dingin membawa ketegangan yang tak terlihat, seolah-olah mereka sedang diawasi.

“Menurutmu, siapa penduduk asli itu?” tanya Leena pelan, memeluk lututnya. “Kita belum pernah melihat siapa pun di pulau ini, kecuali makhluk-makhluk aneh.”

Lynx mengerutkan kening, mengingat pesan di dinding dan simbol-simbol aneh yang mereka temukan di gua tambang. “Aku tidak tahu. Tapi kalau mereka menyerang Sherly, itu berarti mereka melihat kita sebagai ancaman. Dan jika benar mereka sudah mengetahui gua ini, kita harus bersiap menghadapi hal yang lebih buruk.”

Leena menelan ludah. “Apa menurutmu mereka sama seperti kita? Orang-orang yang juga terdampar di pulau ini?”

“Mungkin,” jawab Lynx. “Atau mungkin mereka sudah lama tinggal di sini. Apa pun itu, kita tidak bisa menganggap remeh.”

Leena menatap api unggun dengan cemas. “Sherly… aku harap dia baik-baik saja.”

“Kita akan menemukannya,” kata Lynx tegas. “Tapi kita harus sabar. Kita tidak bisa keluar mencari dia dalam keadaan tidak siap.”

Hari-hari berikutnya, mereka terus memperkuat gua dan mempersiapkan diri. Lynx membuat lebih banyak senjata sederhana dari kayu dan bambu, sementara Leena mengumpulkan tanaman untuk membuat obat-obatan dan racun tambahan. Mereka juga memeriksa pantai di sekitar gua untuk mencari tanda-tanda keberadaan Sherly atau jejak penduduk asli.

"Melihat jejak mereka, sepertinya mereka pergi ke arah selatan, datang dari arah timur. Ada kemungkinan mereka tinggal di sebelah timur pulau menjaga tempat yang ingin kita datangi," kata Lynx. "Kita harus bersiap untuk hadapi mereka, karena kemungkinan mereka akan melewati tempat ini lagi untuk kembali," lanjutnya.

Satu pagi, saat Lynx dan Leena sedang memeriksa jebakan ikan di dekat sungai, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya berdesir. Sebuah kain kulit kecil tergeletak di tanah, penuh dengan noda darah kering.

“Lynx!” panggilnya, berlari kembali ke gua.

Lynx yang sedang memeriksa jebakan mereka segera bangkit. “Ada apa?”

Leena menyerahkan kain itu kepadanya. “Ini… ini milik Sherly, aku yakin. Aku pernah melihat dia membuatnya saat bersama kita. ”

Lynx memegang kain itu, memeriksanya dengan seksama. “Kalau ini miliknya, berarti dia melewati tempat ini saat melarikan diri.”

Leena mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Lynx, dia pasti sedang ketakutan sekarang. Kita harus menolongnya.”

Lynx berpikir keras, matanya menyipit menatap ke arah hutan yang gelap di kejauhan. “Kalau dia masih di luar sana, kita harus menemukannya. Tapi kita tidak bisa melakukannya saat ini. Kita perlu memastikan jebakan di sini cukup kuat terlebih dahulu untuk melindungi diri kita saat penduduk asli itu datang lagi.”

Leena menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. “Baiklah. Kita selesaikan semuanya di sini dulu, lalu kita cari dia. Aku tidak akan meninggalkan Sherly sendirian di luar sana.”

“Aku rasa kita harus lebih memperkuat gua ini,” kata Lynx sambil memeriksa area sekitar gua. Ia menatap jebakan sederhana yang sudah lama mereka pasang. “Mereka kemungkinan pernah datang ke tempat ini. Kita harus lebih waspada.”

Leena memegang busur kecilnya, wajahnya tegang. “Kamu pikir mereka benar-benar tahu gua ini? Atau Sherly hanya lewat saat dia melarikan diri?”

“Mungkin saja,” jawab Lynx. “Jejak yang kita temukan didalam gua sepertinya hanya satu orang, hanya Sherly yang masuk. Kemungkinan dia juga yang menutupnya kembali, Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sembunyikan didalam gua, karena bukan sifatnya untuk mau susah payah menutup kembali pintu gua, terutama saat sedang dikejar-kejar."

Leena mengangguk pelan, lalu mendekati tumpukan kayu kering yang mereka kumpulkan. “Aku sudah memeriksanya, tapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan didalam gua. Selain itu aku bisa membuat lebih banyak jebakan tali seperti yang kita buat sebelumnya. Kalau mereka mendekat, jebakan itu bisa menghentikan langkah mereka.”

“Bagus,” balas Lynx sambil memotong batang bambu. “Aku akan membuat tombak tambahan dan memasang perangkap lubang di sekitar jalan setapak. Tapi aku masih penasaran siapa mereka sebenarnya.”

"Siapapun mereka, aku tidak mau kita mengambil risiko. Kita tidak tahu siapa mereka, dan itu lebih menakutkan.” Kata Lynx sambil menghembuskan napas.

Mereka segera bekerja. Lynx menggali lubang-lubang kecil di sepanjang jalur yang mengarah ke pintu masuk gua. Lubang-lubang itu dipenuhi dengan tombak tajam yang diolesi racun. Leena, sementara itu, membuat mekanisme jebakan sederhana dengan tali dari kulit hewan yang akan memicu busur panah otomatis.

Saat siang berganti sore, mereka memeriksa hasil kerja keras mereka.

“Aku rasa ini cukup untuk sekarang,” kata Leena sambil mengelap peluh di dahinya. “Tapi kita tetap harus berjaga-jaga malam ini.”

Malam harinya, Leena memasak dengan peralatan barunya. Di dalam gua, aroma daging rusa yang direbus dengan akar-akaran memenuhi udara. Leena mengaduk panci perlahan, memastikan sup itu matang dengan sempurna.

“Leena,” panggil Lynx sambil memeriksa tombaknya. “Menurutmu, apa Sherly berhasil melarikan diri?”

Leena terdiam sejenak sebelum menjawab. “Aku tidak tahu, Lynx. Tapi… kalau dia masih hidup, dia pasti berusaha kembali ke sini.”